Skip to content
Desember 19, 2010 / kazekane

Ada yang tau dimana TOLIKARA?


Sebelum anda membaca tulisan yang saya kutip dibawah, apakah ada yang bisa menjawab pertanyaan diatas?

Kalaupun ada yang bisa menjawab mungkin anda berasal dari sekitar TOLIKARA.

Saya sudah bertanya ke mbah google maps dan ini jawabannya, TOLIKARA

dan search googple photo mendapatkan hasil dibawah ini.

Pertanyaan berikutnya, ada apa sih dengan TOLIKARA ?

ini saatnya anda membaca tulisan yang saya quote dibawah ini.

<————————————————————————————>

Salam dari Jayapura! Kami bertiga baru saja keluar
dari pedalaman Tolikara menyaksikan Olimpiade Astronomi se Asia-Pacific.

Hasilnya? Pelajar2 Indonesia menduduki urutan ke-2 dari 9 negara, dengan
perolehan 1 medali emas, 2 perak dan 4 perunggu. Korea Selatan di urutan
pertama dengan 2 emas. Indonesia berada diatas China, Rusia, Kazakshtan,
Kyrgistan, Nepal, Cambodia, dan Bangladesh. Lebih mengejutkan lagi, 3 medali
perunggu Indonesia di raih oleh pelajar asal Tolikara, kabupaten terpencil di
Tolikara, yang selama ini mengalami keterbelakangan pendidikan dan SDM. Dari
Tolikara, Indonesia belajar!

Kisahnya dimulai dengan seorang “gila”
bernama Yohanes Surya, pendiri Surya Institute dan salah satu aktivis olimpiade
science dunia, yang telah sukses mempromosikan banyak anak Indonesia ke ajang
olimpiade science dunia, memprakarsai dilaksanakannya Olimpiade Astronomi Asia
Pacific (APAO) di Indonesia. Program ini ditawarkan ke berbagai pemda di
Indonesia, namun tidak ada yang tertarik. Hingga suatu hari …

Yohanes Surya ketemu dengan seorang
“gila” lainnya bernama John Tabo, orang Papua, Bupati Tolikara,
pegunungan tengah Papua, kabupaten baru yang terisolir dan hanya bisa dicapai
dengan naik pesawat kecil dari Jayapura ke Wamena disambung berkendaraan
off-road selama 4 jam, daerah dimana laki-laki tanpa celana dan perempuan tanpa
penutup dada, ditemukan dimana-mana. John Tabo, tanpa diduga, bersedia menjadi
sponsor pelaksanaan APAO di Indonesia, selain menjadi tuan rumah, dia juga
mendanai seluruh biaya persiapan tim olimpiade Indonesia yang datang dari
berbagai daerah di Indonesia termasuk dari Papua, selama 1 tahun. John Tabo
membangun tempat khusus (hotel) untuk menjadi venue olimpiade ini. Orang yang
berfikir normal pasti bilang, untuk apa John gila ini urusin Olimpiade
astronomi seperti ini? bukankah masih banyak persoalan internal kabupaten yang
harus dia selesaikan? mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi dan berbagai
infrastruktur dasar? Cari kerjaan dan masalah saja!

John Tabo melakukan terobosan “gila”.
Dana diambil dari APBD, mau dari mana lagi? Dia tidak takut BPK atau BPKP yang
akan menilainya salah prosedur. Untuk John Tabo, membangun adalah untuk rakyat,
jangan dibatasi oleh hal-hal administratif. Yang penting misi dia untuk
membangun SDM Tolikara yang mendunia dapat tercapai, dan itu
“breakthrough” untuk mengatasi kemiskinan Tolikara, tidak perlu
menunggu sampai infrastruktur jalan akses terbuka.

Dikumpulkanlah 15 anak Indonesia sejak februari
2010 di Karawaci untuk, kesemuanya “gila”. 8 dari 15 anak tersebut
direkrut dari SMP/SMU Tolikara, yang semuanya memiliki kemampuan matematika
yang rendah, menyelesaikan soal matematika tingkat kelas 4 SD saja tidak mampu.
Bahkan ada yang namanya Eko, ketika ditanya 1/5 + 1/2, langsung dijawab 1/7!
Seorang anak dari Kalimantan Tengah, malah tidak diijinkan kepala sekolah dan
gurunya untuk mengikuti persiapan olimpiade ini. Guru-gurunya mengatakan bahwa
apa yang akan dia ikuti itu sia-sia saja. Dia melawan ini dan lari dari
sekolah!

Ke-15 anak ini dilatih oleh pelatih2
“gila”, yang tidak bosan dan kesal melatih anak-anak ini. Dalam 10
bulan ke-8 anak Tolikara ini mampu mengerjakan problem matematika paling sulit
yang
diajarkan pada tingkat terakhir SMA atau tingkat awal universitas.

Pendekatan mengajarnya juga
“gila”. Astronomi adalah kumpulan dari berbagai ilmu
science: matematika, fisika, kimia dan biologi menjadi satu mempelajari
fenomena jagad raya.

Ini juga ilmu gila. Bayangkan seorang anak seperti
Eko dari pedalaman Tolikara dapat menjadi salah seorang anak terpandai dibidang
astronomi didunia hanya dalam waktu 10 bulan??!!

Urusan ijin ternyata juga “gila-gilaan” .
Ternyata even APAO ini tidak diakui oleh Kemdiknas. Akibatnya, untuk
mendatangkan peserta luar negeri, tidaklah mungkin mendapatkan fasilitas visa
dari negara. Pake prosedur normal ijin dari Pemerintah cq Mendiknas tidak
keluar. Entah gimana ceritanya …

Surya Institute akhirnya bertemu dengan seorang
“gila” dari UKP4. Orang inilah yang mengetok Menteri Diknas, sehingga
kemdiknas mau mengeluarkan ijin. Lalu orang ini memfasilitasi ijin visa
disaat-saat terakhir, ketika semua sudah pasrah, bahkan orang ini mempertemukan
anak-anak Indonesia dengan wakil presiden RI. Orang normal mungkin akan
berfikir, apa urusannya astronomi dengan wapres??!!

Lalu siorang gila dari UKP4 ini menugaskan 3 orang
anggotanya yang kebetulan juga “agak gila” untuk datang menghadiri
kegiatan olimpiade di Tolikara. jadilah 3 orang itu sebagai satu2nya unsur
pemerintah pusat dalam even Olimpiade di Tolikara. Lalu 3 orang ini
membawa-bawa nama Wakil Presiden RI dan Kepala UKP4 untuk memotivasi anak2.
Dalam percakapan hati ke hati dengan 15 orang anak, semalam sebelum pengumuman,
tidak kurang 7 orang anak terharu menangis, melihat begitu besarnya perhatian
pemerintah RI kepada mereka, sesuatu yang tidak pernah mereka rasakan dari
pemerintah di Jakarta selama 10 bulan mereka di godok di Karawaci. Datang dan
duduk bersama dengan mereka, ternyata lebih dari segalanya bagi anak-anak ini.
Anak-anak Tolikara begitu terharu, menangis terisak, melihat ada orang Jakarta
mau datang melihat mereka di Tolikara.

Apa hasil dari semua kegilaan ini? Selain
perolehan medali-medali diatas:

1. Indonesia dikenal lewat Tolikara! Tolikara,
meskipun tidak dikenal Indonesia, namun telah membuktikan kepada dunia bahwa
dari tempat yang sedikit sekali dijamah pembangunan, bisa lahir juara-juara
olimpiade science, yang akan mengharumkan nama Indonesia ditingkat dunia,

2. Tolikara mulai membenahi sumber daya manusianya
menuju SDM berkualitas dunia. Hasil olimpiade ini telah memotivasi semua anak
Tolikara bahwa keterbatasan fisik dan fasilitas bukanlah halangan bagi anak
Tolikara untuk menjadi SDM terbaik dunia. 8 anak Tolikara yang bersaing
ditingkat dunia menjadi saksi hidup bahwa SDM Tolikara dapat bersaing ditingkat
dunia.

3. Tolikara membuktikan bahwa mereka dapat
membangun “lebih cepat” jika cara berfikir “gila” ini
diterapkan. Hanya dengan cara gila seperti ini pembangunan Papua dapat
dipercepat.

4. Kita perlu “A Tolikara Approach”
untuk sebuah percepatan pembangunan Papua!

Pesan moral dari kisah ini: jadilah orang gila
untuk membangun Indonesia lebih baik! Never underestimate things! Kesempatan ke
Tolikara telah memberikan pelajaran berharga bagi saya. Belajar tidak harus
selalu dari tokoh dunia. Dari seorang anak SMP yang tidak pernah diperhitungkan
dipelosok Tolikara, kita dapat belajar untuk berbuat yang terbaik bagi
Indonesia dan dunia.

Partogi Samosir
Counsellor
Embassy of the Republic of Indonesia
Washington, D.C.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: